Menyambut Tahun Baru Hijriyah
Masya Alloh, kiranya perlu untuk penulis coba meluruskan kepada
anak-anakku, teman-teman, juga Saudara-saudara se-iman dan se-agama.
Sungguh telah menjadi satu keprihatinan tersendiri bahwa saat ini
sebagian muslim telah ikut terbawa arus dan turut larut dalam
kegembiraan, -euforia- merayakan pergantian tahun baru masehi. Sementara
mereka tidak merasa dirinya telah jauh, dan bahkan tidak peduli dengan
penanggalan tahun Hijriyah yang sebenarnya menjadi ukuran pelaksanaan
beberapa ibadah tertentu yang sebaiknya dilakukan.
Ambil saja contoh mudah, bahwa Puasa Ramadhan dimulai dari
munculnya tanggal 1 bulan Ramadhan, Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal,
Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah, peristiwa Isra Mi’raj diperingati
pada setiap tanggal 27 Rajab, dan sebagainya.
Kiranya saat inilah untuk ber-musahabah diri mencoba membiasakah
diri hidup dan berperilaku lebih Islami, mengikuti apa yang telah Alloh
Hidayah-kan setitik Iman pada Hati dan Jiwa yang ada dalam diri.
Dalam rangka menyambut dan bukan memperingati atau merayakan
tahun baru Hijriyah, berikut ini beberapa hal yang hendaknya dilakukan
oleh ummat Islam:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk
hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hasyr : 18)
Pertama. Setiap orang Islam senantiasa dengan bangga menunjukkan
jati diri keislamannya, antara lain –dalam konteks ini- dengan lebih
mengutamakan penggunaan kalender Hijriyah sebagai salah satu identitas
ummat pengikut Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam.
Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu
kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu,
bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia
dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian
yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling, maka
katakanlah kepada mereka : "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang
Islam (yang berserah diri kepada Allah)". (QS. Ali Imran : 64)
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata :
"Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Islam (yang berserah diri)?" (QS.
Fushshilat : 33)
Kedua. Menjadikan fenomena pergantian waktu : siang-malam, hari,
pekan, bulan, tahun dan seterusnya yang merupakan salah satu
tanda-tanda kebesaran Allah, untuk banyak bertafakkur dan berdzikir
mengingat muroqobah (pengawasan) Allah, dan bukan untuk merayakannya
dengan cara-cara yang penuh dengan kesia-siaan, seperti yang biasa kita
saksikan pada fenomena penyambutan tahun baru yang lain.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal, (QS. Ali Imran : 190).
Ketiga. Mengingatkan bahwa, berdasarkan sunnah Nabi shallallahu
’alaihi wasallam, tidak ada contoh aktifitas atau praktek ritual
tertentu dalam menyambut pergantian tahun.
Keempat. Namun tidak ada salahnya, bahkan sangat baik jika
momentum ini digunakan untuk hal-hal bermanfaat yang tidak bersifat
ritual khusus, seperti diambil ibrah dan pelajaran darinya, disamping
dimanfaatkan untuk muhasabah dan instropeksi diri. Karena setiap muslim
harus selalu melakukan muhasabah diri, disamping setiap saat, juga yang
bersifat harian, pekanan, bulanan, tahunan dan seterusnya. Umar bin Al
Khatthab radhiyallahu ’anhu berkata :
”Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum
kamu ditimbang nanti dan bersiap-siaplah untuk hari menghadap yang
paling besar (hari menghadap Allah)”, Pada hari itu kamu dihadapkan
(kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi
Allah). (QS Al-Haaqqah : 18)
Kelima. Mengambil ibrah dari semua kejadian dan peristiwa
sepanjang tahun sebelumnya, dan tahun-tahun sebelumnya dimana berbagai
krisis dan konflik multidimensi, serta musibah dan bencana besar silih
berganti telah mengharu biru kehidupan bangsa Indonesia pada umumnya dan
ummat Islam pada khususnya. Padahal itu semua hanyalah sebagian saja
diantara hak sanksi/hukuman atas fenomena maraknya bermacam-macam
kejahatan, kemaksiatan dan penyimpangan yang diperbuat tangan-tangan
kotor manusia pendurhaka. Disamping sekaligus peringatan dari Allah agar
kita sadar dan kembali kepada-Nya. Maka, marilah kesempatan waktu yang
masih diberikan Allah saat ini kita manfaatkan untuk benar-benar tobat
dan memperbaiki diri. Dan jangan menunggu –la qaddarallah- sampai Allah
mencabut masa penangguhan yang diberikan oleh-Nya atau sampai Dia
memberikan peringatan yang lebih keras lagi!!!
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian
dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar). (QS. Ar Rum : 41)
Dan kalau sekiranya Allah hendak menyiksa manusia sesuai dengan
perbuatan jahatnya, niscaya Dia tidak akan menyisakan di atas permukaan
bumi satupun mahluk melata, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan)
mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ketentuan ajal
mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan)
hamba-hamba-Nya. (QS. Faathir : 45).
Keenam. Tahun baru Hijriyah mengingatkan kita pada peristiwa
hijrah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka marilah kita
benar-benar menhijrahkan diri dari segala bentuk keburukan menuju
kebaikan, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebid’ahan menuju
kesunnahan, dari kejahiliyahan menuju totalitas Islam dan dari kegelapan
memperturutkan hawa nafsu menuju cahaya terang keikhlasan dalam
menggapai ridha Allah.
المسلم من سلم المسلمون من لسانه و يده و المهاجـر من هـجـر ما نهى الله عنه – متفق عليه
Orang muslim adalah orang yang tidak mengganggu orang muslim
lain baik dengan lidah maupun tangannya, dan orang yang hijrah itu
adalah orang yang hijrah meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketujuh. Mengingatkan ummat Islam dan masyarakat bahwa, marak
dan merajalelanya berbagai bentuk kemaksiatan yang menghancurkan
sendi-sendi kehidupan selama ini, tidak terlepas dari fenomena lemahnya
semangat dan usaha da’wah serta amar bil ma’ruf wannahi ‘anil munkar di
kalangan masyarakat. Padahal ummat ini adalah ummat da’wah, dimana usaha
da’wah seharusnya ditunaikan oleh setiap individu muslim sesuai dengan
kemampuan masing-masing. Oleh karenanya mari kita tingkatkan aktifitas
da’wah yang berorientasi pada pembinaan generasi ummat dan pencegahan
serta pemberantasan kemunkaran di muka bumi.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran : 104).
من رأى منكم منكـرا فليغـيّـره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، و ذلك أضعف الإيمان – رواه مسلم
Barang siapa diantara kamu melihat suatu kemunkaran, maka
hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan
lisannya, jika tidak mampu pula, maka dengan hatinya, dan itu adalah
selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim)
Kedelapan. Secara khusus kami mengajak seluruh ummat Islam untuk
mengawali tahun baru Islam ini –disamping dengan bentuk-bentuk ketaatan
lain- dengan memperbanyak puasa dibulan Muharram khususnya pada tanggal
10 dan 9 (’Asyura dan Tasu’a).
قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم : أفضل الصيام بعد رمضان شهـر الله المحـرم و أفضل الصلاة بعد الفـريضة صلاة الليل – رواه مسلم
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”sebaik-baik
puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Muharram, dan
sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR.
Muslim)
سئل رسول الله صلّى الله عليه و سلّم عن صيام يوم عاشوراء فقال : يكـفّـر السنة الماضية – رواه مسلم
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam ditanya tentang puasa
hari ’Asyura (tanggal 10 Muharram), maka Beliau bersabda : ”Bisa
menghapus (dosa-dosa kecil) satu tahun yang lewat. (HR. Muslim)
و قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم : لئن بقيت إلى قابل لأصومنّ التاسع – رواه مسلم
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Kalau Aku
hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan puasa pada tanggal 9
(Muharram). (HR. Muslim)
Demikian taushiyah ini disampaikan untuk diperhatikan dan
dilaksanakan. Mudah-mudahan Allah SWT mencintai kita, mengumumkan
kecintaan-Nya kepada penduduk langit, dan menurunkan kecintaan itu
kepada seluruh penduduk bumi. Amiin
و آخـر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين